Kalau lagi nonton pertandingan sepak bola, ada satu hal yang hampir selalu kelihatan selain pemain lari-larian dan duel rebut bola: meludah di lapangan. Kadang baru beberapa menit main, sudah ada saja pemain yang meludah. Buat penonton, kebiasaan ini mungkin kelihatan sepele atau bahkan dianggap cuma gaya. Padahal, ternyata ada alasan ilmiah di baliknya. Ketika bermain dengan intensitas tinggi, tubuh pemain mengalami berbagai perubahan, termasuk pada kondisi air liur.
1. Air liur jadi lebih kental
Saat olahraga intens, komposisi air liur dapat berubah sehingga teksturnya menjadi lebih kental. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya konsentrasi protein dan mukus, termasuk MUC5B, yang berperan membuat air liur lebih lengket. Kondisi ini membuat air liur terasa kurang nyaman untuk ditelan, sehingga pemain lebih memilih membuangnya.
2. Napas lewat mulut bikin mulut cepat kering
Saat sprint, mengejar bola, atau bertahan dalam tempo tinggi, pemain akan bernapas lebih cepat dan sering melalui mulut. Udara yang terus keluar-masuk dapat meningkatkan penguapan air dari permukaan mulut, sehingga air liur terasa makin pekat dan lengket.
3. Tubuh sedang berada dalam mode “gaspol”
Olahraga berat mengaktifkan sistem saraf simpatik, bagian dari respons tubuh ketika membutuhkan performa tinggi. Aktivasi ini berkaitan dengan perubahan produksi dan komposisi air liur, termasuk meningkatnya protein tertentu dan perubahan kekentalannya. Jadi, bukan sekadar pemain punya kebiasaan meludah.
4. Dehidrasi juga bisa berperan
Bermain sepak bola berarti kehilangan cairan melalui keringat, apalagi dalam cuaca panas. Ketika cairan tubuh berkurang, aliran air liur dapat ikut menurun sehingga konsentrasi protein dan mukus meningkat. Akibatnya, air liur terasa lebih tebal.
5. Meludah bisa membuat mulut terasa lebih nyaman
Dengan membuang air liur yang terasa terlalu kental, pemain bisa mendapatkan sensasi mulut yang lebih nyaman. Hal kecil seperti ini cukup berarti ketika mereka harus terus berlari, berkomunikasi, dan mengambil keputusan cepat selama pertandingan.
Fakta menariknya, perubahan air liur saat olahraga sebenarnya bukan sesuatu yang cuma terjadi pada pesepak bola. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat memengaruhi komposisi air liur, termasuk protein, enzim, dan berbagai komponen lain. Bahkan, penelitian yang melibatkan pemain sepak bola menemukan adanya perubahan sejumlah penanda dalam air liur setelah pertandingan, termasuk yang berkaitan dengan energi dan status hidrasi. Artinya, air liur ternyata bisa memberikan gambaran tentang bagaimana tubuh merespons aktivitas fisik. Selain itu, jangan langsung menganggap setiap ludah pemain berarti dia mengalami dehidrasi berat. Kekentalan air liur juga bisa dipengaruhi oleh intensitas olahraga dan kebiasaan bernapas melalui mulut. Jadi, pemain meludah bukan berarti tubuhnya sedang “kehabisan air”, melainkan bisa menjadi respons alami terhadap perubahan kondisi mulut selama aktivitas berat.
Jadi, kalau melihat pemain bola meludah saat pertandingan, sekarang nggak perlu heran lagi. Bukan cuma kebiasaan atau gaya-gayaan, melainkan ada faktor fisiologis yang cukup masuk akal di baliknya. Saat tubuh sedang bekerja keras, bahkan air liur pun ikut berubah—dan meludah bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa tidak nyaman selama permainan.